Cerpen buatanku waktu kelas VII dulu...
Gak ada unsur cinta-cintaan apalagi galau-galauan era sekarang disini,,
Waktu itu kan diriku masih lugu.. hehe
"Not good,, but not bad" lah..
Gak ada unsur cinta-cintaan apalagi galau-galauan era sekarang disini,,
Waktu itu kan diriku masih lugu.. hehe
"Not good,, but not bad" lah..
Air… Air… Air…
“Wah… bunganya cantik ya, seperti yang
punya. “ kata seorang ibu-ibu yang lewat di depan rumah Risma.
Risma yang sedang menyirami tanaman-tanaman
hias di depan rumahnya, hanya tersipu malu mendengar pujian ibu itu. Dengan
muka yang merah, ia pun membalas pujian itu dengan senyum manisnya. Ibu-ibu itu
pun berlalu pergi.
Tidak seperti di kota, kebanyakan rumah di desa halaman di
depan rumahnya cukup luas. Begitu pun dengan rumah Risma, latar di depan
rumahnya di tanami beberapa tanaman hias. Rismalah yang meminta agar ditanami
tanaman hias, Risma berjanji akan merawatnya dengan baik dan menyiraminya
setiap hari. Rumah Risma pun selalu tampak indah dan asri karna dihiasi dengan
tanaman dan bunga-bunga bermekaran di depan rumahnya.
Sore itu, seperti biasanya Risma berniat
untuk menyirami tanamannya. Ia memasukkan selang, yang biasa digunakannya untuk
memudahkannya menyirami tanaman ke mulut keran. Risma segera memutar tuas keran
untuk menghidupkan air. Namun setelah ia tunggu beberapa lama, air tidak
kunjung keluar. Risma mengecek keran tersebut, ternyata airnya memang mati.
Hari ketiga airnya masih belum mengalir.
Risma sangat bingung bagaimana caranya agar bisa menyiram tanaman itu. Ia pun
masuk kedalam kamar mandi dan mengambil air dari bak mandi menggunakan ember.
“Risma, mau kamu bawa kemana air itu ?”,
tanya ibu Risma yang melihat Risma membawa seember air dari kamar mandi.
“Buat nyiram tanaman bu.”
“Tidak boleh !”, bentak ibu sebelum Risma
membawa air itu.
“Tapi bu, tanamannya belum aku siram sejak
kemarin, kalau tanamannya mati gimana?”
“Kalau ibu bilang tidak ya tidak boleh.”
“Kalau sedikit boleh ya…, sedikit aja,
please !”
“Risma, kamu tahu kan kalau sampai sekarang airnya masih mati,
kalau kamu gunakan untuk menyiram tanaman terus-menerusnanti airnya habis, lalu
bagaimana kita bisa makan, minum, dan melakukan aktifitas yang memerlukan air?”
Dengan muka ditekuk dan kepala menunduk
Risma berjalan meninggalkan kamar mandi. Di teras rumahnya ia melihat keadaan
tanaman-tanamannya yang tampak kehausan. Beberapa saat kemudian kakak Risma
keluar rumah. Melihat adiknya yang melamun, ia pun menegurnya.
“Jangan ngelamun terus dong Ris !ntar
kesambet lo.”
“Gak kok, kak Roni mau kemana sore-sore
gini ?”
“Aku mau ikut bantu benerin saluran air,
biar kamu gak murung terus” Sambil mengucek-ucek rambut Risma.
“I’i.h kakak jail banget si, ya udah sana cepet berangkat biar
airnya cepet nyala.”
“Yang rajin ya…” teriak Risma setelah Roni
agak jauh meninggalkan rumah.
“Iya bawel” jawab Roni sambil menengok
kebelakang.
Hari berikutnya, airnya masih belum nyala.
Sedangkan tanaman-tanaman Risma sudah terlihat agak layu.
“Aku gak boleh diam begini terus, aku harus
melakukan sesuatu agar mereka tidak mati” kata Risma dalam hati. Risma
mendatangi kak Roni untuk menanyakan perihalpembetulan saluran air itu.
“Kak, saluran airnya belum bener ya ?”
tanya Risma dengan muka ditekuk.
“Belum Ris, masih ada masalah di selangnya.
Mungkin 3 hari lagi baru bener.”
“Hah… 3 hari, kalau nunggu selama itu
tanamanku keburu mati semua dong. Lagian juga sekarang kan musim kemarau, mana mungkin turun
hujan.”
“Gimana kalau kamu minta air sama Pak
Ramdani, dia kan punya sumur tu…, pasti kan persediaan airnya masih banyak,
terserah si kamu mau ngikutin atau gak” kata Roni setelah berpikir beberapa
saat.
“Iya deh, aku coba, makasih ya sarannya
kak” kata Risma sebelum berlalu meninggalkan kakaknya.
Pak Ramdani adalah tetangga Risma yang
mempunyai sumur. Tetangga yang mempunyai sumur lainnya agak jauh. Lagipula Pak
Ramdani itu orangnya baik hati. Tapi rumah pak Ramdani masih harus melewati
jalan Raya.
Risma segera menuju rumah Pak Ramdani
dengan membawa ember berwarna biru. Sesudah melewati 2 rumah ia sampai di jalan
Raya. Risma melihat ke kiri dan kanan, setelah memastikan tidak ada kendaraan
yang lewat, ia pun segera menyebrang.
“Ee..h Risma, ada apa kemari” tanya Pak
Ramdani melihat Risma di depan rumahnya.
“Begini pak, saya mau meminta air, boleh
tidak ? Air di rumah sudah hampir habis, jadinya ibu tidak memperbolehkan saya
mengambil untuk menyiram tanaman.”
“Kalau begitu ambil saja secukupnya di
sumur belakang rumah.”
“Makasih ya Pak.”
Risma menimba dengan semangat, setelah
ember yang dibawanya terisi cukup air. Ia segera meninggalkan sumur itu dan
pulang ke Rumah. Karna begitu senangnya, saat sampai di jalan raya ia tidak memperhatikan kendaraan yang lewat.
Risma langsung menyebrang, Namun tiba-tiba sebuah motor Vixion warna merah dengan kecepatan tinggi menabrak Risma
tanpa sempat mengerem. Air di
dalam ember yang dibawa Risma tumpah dan bercampur dengan darah Risma.
Risma segera dilarikan ke rumah sakit,
namun sayangnya dalam perjalanan ke rumah sakit, ia telah menghembuskan nafas
terakhirnya. Ibu Risma sangat menyesal karena ia tidak membiarkan Risma
mengambil air kemarin, mungkin bila ia membiarkannya Risma tidak akan berakhir
seperti ini. Sejak itu tanaman-tanaman Risma dirawat oleh keluarganya dengan
baik. Karena
tanaman-tanaman itu selalu mengingatkan keluarganya akan Risma yang ceria.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar