Minggu, 23 Desember 2012

Cerpen : Air… Air… Air…

Cerpen buatanku waktu kelas VII dulu...
Gak ada unsur cinta-cintaan apalagi galau-galauan era sekarang disini,,
Waktu itu kan diriku masih lugu.. hehe
"Not good,, but not bad" lah..

Air… Air… Air…


“Wah… bunganya cantik ya, seperti yang punya. “ kata seorang ibu-ibu yang lewat di depan rumah Risma.
Risma yang sedang menyirami tanaman-tanaman hias di depan rumahnya, hanya tersipu malu mendengar pujian ibu itu. Dengan muka yang merah, ia pun membalas pujian itu dengan senyum manisnya. Ibu-ibu itu pun berlalu pergi.
Tidak seperti di kota, kebanyakan rumah di desa halaman di depan rumahnya cukup luas. Begitu pun dengan rumah Risma, latar di depan rumahnya di tanami beberapa tanaman hias. Rismalah yang meminta agar ditanami tanaman hias, Risma berjanji akan merawatnya dengan baik dan menyiraminya setiap hari. Rumah Risma pun selalu tampak indah dan asri karna dihiasi dengan tanaman dan bunga-bunga bermekaran di depan rumahnya.
Sore itu, seperti biasanya Risma berniat untuk menyirami tanamannya. Ia memasukkan selang, yang biasa digunakannya untuk memudahkannya menyirami tanaman ke mulut keran. Risma segera memutar tuas keran untuk menghidupkan air. Namun setelah ia tunggu beberapa lama, air tidak kunjung keluar. Risma mengecek keran tersebut, ternyata airnya memang mati.
Hari ketiga airnya masih belum mengalir. Risma sangat bingung bagaimana caranya agar bisa menyiram tanaman itu. Ia pun masuk kedalam kamar mandi dan mengambil air dari bak mandi menggunakan ember.
“Risma, mau kamu bawa kemana air itu ?”, tanya ibu Risma yang melihat Risma membawa seember air dari kamar mandi.
“Buat nyiram tanaman bu.”
“Tidak boleh !”, bentak ibu sebelum Risma membawa air itu.
“Tapi bu, tanamannya belum aku siram sejak kemarin, kalau tanamannya mati gimana?”
“Kalau ibu bilang tidak ya tidak boleh.”
“Kalau sedikit boleh ya…, sedikit aja, please !”
“Risma, kamu tahu kan kalau sampai sekarang airnya masih mati, kalau kamu gunakan untuk menyiram tanaman terus-menerusnanti airnya habis, lalu bagaimana kita bisa makan, minum, dan melakukan aktifitas yang memerlukan air?”
Dengan muka ditekuk dan kepala menunduk Risma berjalan meninggalkan kamar mandi. Di teras rumahnya ia melihat keadaan tanaman-tanamannya yang tampak kehausan. Beberapa saat kemudian kakak Risma keluar rumah. Melihat adiknya yang melamun, ia pun menegurnya.
“Jangan ngelamun terus dong Ris !ntar kesambet lo.”
“Gak kok, kak Roni mau kemana sore-sore gini ?”
“Aku mau ikut bantu benerin saluran air, biar kamu gak murung terus” Sambil mengucek-ucek rambut Risma.
“I’i.h kakak jail banget si, ya udah sana cepet berangkat biar airnya cepet nyala.”
“Yang rajin ya…” teriak Risma setelah Roni agak jauh meninggalkan rumah.
“Iya bawel” jawab Roni sambil menengok kebelakang.

Hari berikutnya, airnya masih belum nyala. Sedangkan tanaman-tanaman Risma sudah terlihat agak layu.
“Aku gak boleh diam begini terus, aku harus melakukan sesuatu agar mereka tidak mati” kata Risma dalam hati. Risma mendatangi kak Roni untuk menanyakan perihalpembetulan saluran air itu.
“Kak, saluran airnya belum bener ya ?” tanya Risma dengan muka ditekuk.
“Belum Ris, masih ada masalah di selangnya. Mungkin 3 hari lagi baru bener.”
“Hah… 3 hari, kalau nunggu selama itu tanamanku keburu mati semua dong. Lagian juga sekarang kan musim kemarau, mana mungkin turun hujan.”
“Gimana kalau kamu minta air sama Pak Ramdani, dia kan punya sumur tu…, pasti kan persediaan airnya masih banyak, terserah si kamu mau ngikutin atau gak” kata Roni setelah berpikir beberapa saat.
“Iya deh, aku coba, makasih ya sarannya kak” kata Risma sebelum berlalu meninggalkan kakaknya.
Pak Ramdani adalah tetangga Risma yang mempunyai sumur. Tetangga yang mempunyai sumur lainnya agak jauh. Lagipula Pak Ramdani itu orangnya baik hati. Tapi rumah pak Ramdani masih harus melewati jalan Raya.
Risma segera menuju rumah Pak Ramdani dengan membawa ember berwarna biru. Sesudah melewati 2 rumah ia sampai di jalan Raya. Risma melihat ke kiri dan kanan, setelah memastikan tidak ada kendaraan yang lewat, ia pun segera menyebrang.
“Ee..h Risma, ada apa kemari” tanya Pak Ramdani melihat Risma di depan rumahnya.
“Begini pak, saya mau meminta air, boleh tidak ? Air di rumah sudah hampir habis, jadinya ibu tidak memperbolehkan saya mengambil untuk menyiram tanaman.”
“Kalau begitu ambil saja secukupnya di sumur belakang rumah.”
“Makasih ya Pak.”

Risma menimba dengan semangat, setelah ember yang dibawanya terisi cukup air. Ia segera meninggalkan sumur itu dan pulang ke Rumah. Karna begitu senangnya, saat sampai di jalan raya ia  tidak memperhatikan kendaraan yang lewat. Risma langsung menyebrang, Namun tiba-tiba sebuah motor Vixion warna merah dengan kecepatan tinggi menabrak Risma tanpa sempat mengerem. Air di dalam ember yang dibawa Risma tumpah dan bercampur dengan darah Risma.
Risma segera dilarikan ke rumah sakit, namun sayangnya dalam perjalanan ke rumah sakit, ia telah menghembuskan nafas terakhirnya. Ibu Risma sangat menyesal karena ia tidak membiarkan Risma mengambil air kemarin, mungkin bila ia membiarkannya Risma tidak akan berakhir seperti ini. Sejak itu tanaman-tanaman Risma dirawat oleh keluarganya dengan baik. Karena tanaman-tanaman itu selalu mengingatkan keluarganya akan Risma yang ceria.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar