Minggu, 23 Desember 2012

Resensi Novel : He Loves Me, He Loves Me Not



Memahami Isi Hati
Yang Sesungguhnya Itu Perlu
 
Judul Buku      : He Loves Me, He Loves Me Not
Pengarang       : Elcy Anastasia
Penerbit           : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit    : 2008
Tempat Terbit  : Jakarta
Tebal               : 176 Halaman
Ukuran            : 13,5 × 20 cm
Jenis Buku       : Teen Lit
Ilustrasi Kulit  : Latar sampul berupa bukit berbunga lengkap dengan langit yang tampak putih kebiru-biruan. Diatas bukit itu duduklah seorang wanita memegang setangkai bunga dan  tampak bingung mempertanyakan isi hatinya sendiri. Ia pun mencabut satu demi satu kelopak bunga yang digenggamnya, berharap menemukan sebuah jawaban atas tanya hatinya.
Judul ditulis menindih langit biru bagian atas berwarna biru dan hijau kekuningan berlapis warna putih. Pengarang buku ditulis dibawah judul dengan warna oranye.

Novel ini adalah novel kedua dari Elcy Anastasia setelah “Wajah Baru Nikolas” yang Ia buat bersama Regina Faby.  Dengan kata lain ini adalah novel pertama yang Ia buat sendiri. Novel ini mengisahkan tentang dua sejoli bernama Alex dan Lala yang sudah bersahabat sejak kecil, dan kemudian mereka sadar bahwa mereka saling mencintai satu sama lain.

Alex dan Lala adalah dua manusia yang karakternya sangat berbeda. Sebagai cewek, Lala bisa masuk kategori cewek taugh. Dia pintar, kuat, mandiri, dan cantik. Lala punya nilai sempurna hampir dalam semua mata kuliahnya, punya sabuk hitam taekwondo yang membuatnya menjadi salah satu pelatih bela diri di kegiatan ekstra kampusnya. Sementara itu Alex termasuk kategori cowok baik-baik dan berwajah cakep, Ia selalu bersikap baik, sopan, dan menjauhi kekerasan. Cowok itu juga selalu terlihat bersih, rapi, dan wangi banget. Sehingga kalau Alex kecil diganggu sama anak-anak lain, Lala dengan  siap akan melindungi. Mereka memang bersahabat sejak masih TK, bahkan sampai saat ini mereka sekampus dan tetap bersahabat.  Namun entah sejak kapan, mereka jadi selalu berantem dan saling cela.  Mereka juga punya julukan satu sama lain yaitu Lalat untuk Lala dan Jelek untuk Alex.
Melihat Alex dan Lala tak pernah akur kala bertemu, orang tua mereka malah berniat untuk menunangkan keduanya. Jelas Lala dan Alex menolak, tapi itu sia-sia saja. Orang tua mereka tetap kukuh dengan keputusannya.

Perlahan setelah memikirkan segalanya, Alex pun mulai menerima pertunangan ini, karena menurutnya Lala juga tidak terlalu jelek. Ia juga sadar selama ini Lala begitu perhatian padanya, hari-hari bersama Lala yang telah berlalu terasa menyenangkan dalam ingatannya.  Sejak itu pun banyak pengorbanan yang dilakukan Alex untuk cintanya, seperti manjemput Lala setiap hari ke kampus, membelikan Lala sebuah cincin yang indah untuk pertunangannya, dan hal manis lainnya. Tapi Alex selalu beralasan bahwa yang Ia lakukan itu atas dasar perintah  mamanya. Hingga terkesan bahwa Alex tak peduli sedikit pun pada  Lala.

Namun berbeda dengan Lala yang dengan gencarnya berniat membatalkan pertunangan ini. Baginya, menerima pertunangan  ini adalah sebuah malapetaka. Hingga suatu saat Revan memberikan Lala bunga dan mereka pun mulai dekat. Alex yang mengetahui kedekatan Lala dan Revan perlahan mulai kesal.

Jalan dengan Revan memang mengasyikan. Karena Revan merupakan cowok idaman gadis-gadis di kampus.  Revan memanglah cowok cakep yang tajir, anak band pula. Tapi Lala merasa ada yang kurang, ia lebih merasa nyaman bila berada di dekat Alex. Belakangan baru diketahui ternyata Lala hanya dijadikan bahan  taruhan oleh Revan. Menyadari sikap Alex yang tulus selama ini, Hati Lala pun mulai luluh. Dan akhirnya Lala dan Alex sama-sama sadar tentang  perasaan  mereka. Cerita ini berakhir dengan happy ending. Dua sahabat yang telah lama bersama-sama tanpa mengetahui perasaan mereka yang sebenarnya, akhirnya bisa bersatu.

Walau alur ceritanya sudah biasa atau pasaran, tapi cara penyampaian penulis sangat menggemaskan. Alurnya pun tidak melompat-lompat sehingga pembaca tidak bingung dalam membacanya. Bahasanya pun menggunakan bahasa remaja, dan sampulnya juga terlihat menarik. Sayangnya, novel ini masih menggunakan kertas buram. Jalan ceritanya juga mudah ditebak, serta sedikitnya permasalahan dalam cerita yang ada di novel tersebut, sehingga terdapat kesan kurang seru.

Adapun amanat yang dapat kita ambil dari novel ini, yaitu kalau kita memiliki sahabat yang berbeda  jenis dan  kebetulan sering bertengkar,  jangan terlalu berlebihan menyikapinya, karena akan menimbulkan perasaan yang sangat berkebalikan. Jangan pula melihat orang dari luarnya saja, seperti dalam novel tersebut, Alex yang terlihat cuek dan tak mempedulikan apapun, justru Ia adalah cowok yang gentle, baik hati, dan sangat perhatian. Sedangkan Revan yang terlihat sempurna, Ia malah mempunyai tabiat yang buruk.
Novel ini memang lebih fresh untuk dibaca oleh remaja. Ide ceritanya juga bagus, masalah yang timbul dalam  novel itu biasa dialami oleh remaja dalam  kehidupan nyata, mereka yang awalnya benci-bencian dan sering bertengkar, namun pada akhirnya menyimpan perasaan lain yang bertolak belakang dengan sikap mereka masing-masing. Novel ini juga sangat cocok untuk penyuka novel happy ending tanpa ada bagian galaunya, dan yang pasti kalian tak akan menyesal karena sudah membacanya.


***

Ini asli buatanku lohh.. :)

1 komentar: